Harusnya...

Dari awal lihat fotomu, harusnya tanganku berhenti dan mencari tau lebih dalam tentangmu

Saat malam aku tak punya teman pergi, harusnya aku tak mengajakmu

Harusnya komunikasi itu kuhentikan saja waktu itu 

Harusnya aku tak melakukan hal-hal bodoh seperti memberikan gombalan receh yang jika isinya dibaca orang lain hanya akan membuat mual

Harusnya tak kugubris perhatian-perhatian kecilmu itua, harusnya kau tak usah pedulikan aku sejak awal

Harusnya aku sadar over sharing yg kulakukan hanya akan membuatmu membenciku dan ilfeel

Harusnya aku tak nekat memberimu sinyal-sinyal perasaan sehingga kau harus merasa tanggung jawab akan perasaan bodohku

Wahai Tuan, aku sangat lelah...

Sekarang saat kau pergi, aku hanya bisa terdiam mengingat kenangan yang mungkin jika dibukukan pun hanya akan mengisi halaman awal saja. Namun, perasaan-perasaan ini kian tumbuh walaupun kau memilih untuk tak melanjutkan ini denganku

Wahai Tuan...

Tak bisakah kau pergi dari pikiranku? tak lelahkah kau menganggu pikiranku yang padahal ruangnya hampir tak bersisa. Dan kini ruang itu semua kau ambil. Kau serakah...

Wahai Tuan...

Tak bisakah kau beri satu kesempatan untuk kita memperbaiki ini lagi? Kau tau bahwa tak ada cinta yang mudah, tapi kau pun harusnya tak boleh menyerah

Aku sungguh lelah memikirkanmu, menangisimu...

Aku ingin bahagia juga, sepertimu...

Komentar